Dengan kebersamaan sekolah Ramah Anak terwujud

Pagi hari jam 07 .00, wajah-wajah polos nan lugu sangat senang datang ke sekolah pagi itu… mereka berebut menyalami pak guru dan ibu guru yang ada disekolah….Pagi yang sama pula anak-anaki kelas 1 ini belajar hidup bersih dari guru dan kakak-kakak kelasnya…ada suguhan menarik dipagi hari itu, Guru dan siswa bahu membahu membersihkan sekolah mereka tanpa mebedakan laki-laki atau perempuan semua lebur jadi satu…Yang laki-laki tidak sungkan-sungkan untuk memegang sapu menyapu lantai sekolah..yang perempuan pun tidak segan-segan untuk membuang sampah ke tempat pembuangan akhir sampah di belakang sekolah, sementara sebagian yang lain dengan ”baju kebesarannya” mulai memeriksa kebersihan teman-temannya, itulah rutinintas pagi hari yang dilakukan oleh guru dan siswa di SDN 22 Dompu.

Sekolah ini menjadi buah bibir di saat pertemuan Kadisdikpora kabupaten dompu dengan seluruh kepala sekolah SD yang mendpat dana DAK pada Kamis, 30 Juli 2009 di Aula pertemuan Kadisdikpora Kabupaten Dompu. Kadisdikpora Drs. H. Gaziamansyuri mengajak semua kepala sekolah untuk mencontoh SDN 22 Dompu yang dengan proses transparansi dalam pengeloalaan dana nya justeru berhasil mendapat simpati dari masyarakat untuk memberikan sumbangan buat sekolah ditengah gencarnya kampanye pendidikan gratis yang didengungkan oleh Pemda dompu maupun Pemerintah Pusat. Pada kesempatan tersebut Kadisdikpora menganjurkan kepada seluruh kasek yang hadir untuk belajar MBS/ramah anak di SDN 22 Dompu.  Kepedulian masyarakat terhadap sekolah diawali oleh semangat kepala sekolah dan dewan guru untuk merubah SDN 22, menjdi SD yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Proses di SDN 22 menjadi ”buah bibir” dikalangan pendidik kabupaten Dompu tidak terjadi begitu saja. Tapi proses ini merupakan perjuangan berat dari Kepala Sekolah Muh. Saleh Muh.Tahir, dewan guru, komite sekolah dan masyarakat sekitar sekolah.. Kebersamaan dan tekad inilah yang membuat mimpi kepala sekolah dan guru menjadi kenyataan, SDN 22 Dompu yang tidak dikenal selama ini menjadi SD yang direkomendasikan oleh Kepala Dinas Dikpora untuk menjadi contoh buat SD-SD yang lain.

 Perubahan itu

Berawal dari mewujudkan tekad inilah, kepala sekolah memulainya dengan cara sangat sederhana yaitu membuat alat peraga secara mandiri. Dengan alat peraga tersebut bersama dengan guru-guru mencoba menggunakan untuk proses pembelajran dan yang menjadi nara sumber saat itu adalah kepala sekolah sendiri. ” Proses belajar yang berkualitas adalah tergantung pada SDMnya guru, bila guru tidak pandai memfasilitasi maka proses pembeljaran menjadi beban buat siswa” begitu tutur kepala sekolah. Dengan alat peraga ini diharapakan guru-guru mampu memfasilitasi proses pembelajaran yang lebih kreatif dan siswa merasa senang dan aktif mengikuti proses pembelajaran. Selain itu kepala sekolah juga mengatur giliran guru-guru untuk mengikuti pelatihan-pelatihan terutama yang difasilitasi oleh Plan karena dirasa bahwa pelatihan-pelatihan tersebut sangat membantu untuk meningkatkan kompetensi guru. ”Pelatihan yang saya ikuti di plan sangat membantu saya dalam memfasilitasi proses pembelajaran, saya tidak terlalu capek untuk menerangkan tetapi saya belajar bersama dengan anak melalui diskusi kelompok, belajar di luar ruangan, dan menggunakan alat peraga. Hasilnya efektif dibanding sebelum saya menerapkan Pakem/tematik yang saya dapatkan dari Plan”,  begitu tutur Ibu Safiah guru kelas I SDN 22 Dompu

Hal lain yang tidak kalah penting yang dilakukan adalah merubah setting kelas agar lebih menyenangkan buat anak. Kepala sekolah dan guru dengan menyisihkan dana BOS sebagian dan sedikit stimulan dana dari Donatur (Plan) untuk melakukan pembenahan terhadap ruang belajar siswa, kelas-kelas dihiasi dengan berbagai hasil karya anak dan guru dengan warna dan corak yang sangat menarik. Setiap hari guru dan kasek selalu mengahsilkan sesuatu untuk mempercantik dan memperindah ruangan kelasnya.

”sekolah saya sudah indah, saya bangga terhadap sekolah saya karena sering dikunjungi oleh orang dari luar” begitu hadi Hidayat kelas 5 menggambarkan kebanggaannya terhadap sekolah. Lain lagi dengan khusnul khatimah siswa kelas 5 ” sekarang belajar tidak membosankan, karena guru tidak ngomong melulu tapi ada diskusi, dan kerja kelompok”. Itulah ungkapan-ungkapan yang menggambarkan betapa siswa sangat senang berada di sekolahnya.

Perubahan-perubahan ini menarik perhatian komite sekolah dan masyarakat sekitar. ”Ada apa dengan sekolah ini, kenapa bisa seperti ini, bagaimana cara mereka melakukan perubahan, dari mana dana untuk merubah ini”, semua pertanyaan-pertanyaan tersebut menggelayut ditengah masyarakat. Dalam situasi seperti itu komite sekolah berinisiatif untuk melakukan pertemuan dengan kepala sekolah dan mendiskusikan apa yang dapat dibantu oleh masyarakat untuk medukung ”gerakan” perubahan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah dan Komite Sekolah. Dalam pertemuan tersebut diputuskan bahwa yang dicapai oleh sekolah harus didukung oleh masyarakat agar apa yang dicapai tidak merosot lagi dan juga disepakati pula untuk melakukan pertemuan lanjutan untuk menyusun RPS dan RAPBS sekolah bersama dengan pihak sekolah dan masyarakat.

Pertemuan tersebut merupakan cikal bakal proses transparansi di SDN 22 Dompu. Pertemuan kedua merupakan tindak lanjut dari pertemuan pertama, pihak sekolah dan komite bersama-sama membedah vissi dan missi sekolah untuk diterjemahkan dalam aktivitas nyata berupa RPS dan RAPBS. Dalam kesempatan tersebut semua stakeholders yang hadir menyusun bersama rencana pengembangan sekolah dalam dua tahun yang diawali dengan analisa swot terhadap potensi yang dimiliki oleh sekolah baik internal maupun external. Dari hasil pertemuan tersebut wali murid dan masyarakat sekitar bersedia untuk menyumbang 35.000 per KK atau Total 16 juta untuk membangun kantin, tempat pembuangan akhir sampah dan lapangan olah raga.

Sifat kegotongroyongan orang tua ternyata tertular juga ke anak-anak, setiap minggu siswa yang bersekolah di SDN 22 Dompu menyisihkan uang belanjanya 500 rupiah per anak untuk membeli air mineral yang dapat diminum bersama dimasing-masing kelas. Sekolah dengan dana BOS membeli Galon dan dispencer. Kebiasaan ini merupakan bagian dari pendidikan pola hidup bersih dan sehat yang langsung dipraktekan oleh Kasek, guru, komite dan masyarakat dihadapan anak sehingga lebih effektif hasilnya.

Perubahan yang terjadi di SDN 22 Dompu desa Mbawi terinspirasi dari pengalaman perubahan yang terjadi di SDN 06 Pajo sebelumnya, dimana Kepala sekolah SDN 22 Dompu sebelumnya adalah guru di SDN 06 Pajo.

Pak Saleh mengatakan bahwa perubahan di sekolah akan terjadi bila :

  1. Ada kemauan untuk merubah sekolah ke arah yang lebih baik.
  2. Kepala sekolah harus mandiri; mandiri dalam arti memiliki sumberdaya dan kemampuan sebagai manager sekaligus narasumber buat guru-guru.
  3. Semangat kebersamaan antara Kepala sekolah, guru, siswa, komite dan masyarakat.
  4. Transparan dan akuntabel.

Empat resep inilah yang merubah SDN 22 Dompu yang semula bukan apa-apa menjadi salah satu sekolah yang direkomendasikan untuk rujukan MBS/Ramah anak di kabupaten Dompu.

 

__o0o__

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Transformasi Pendidikan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Dengan kebersamaan sekolah Ramah Anak terwujud

  1. nurman berkata:

    bagus sekali proses ini. kami sedang memfasilitasi sekolah ramah anak di SD dampingan di NTT khususnya di kabupaten TTU. waktu pelatihan2, ada rekomendasi pelatih kah? yang juga mempertimbangkan budaya dalam materi pelatihannya. thanks in advance

    • derao berkata:

      Terimakasih, saya kira di TTU khususnya di So’e, kalau tidak salah Plan Indonesia So’e bersama dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga sudah membentuk team fasilitator MBS di TTU, silakan anda diskusi dengan Dinas PPO setempat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s