Bertemu untuk berpisah

Desa Ranggo adalah sebuah Desa yang berada selatan Kabupaten Dompu tepatnya di Kecamatan Pajo, Desa ini tidak terlalu sulit untuk dijangkau karena jalur Desa Ranggo merupakan jalan lintas Lakey tempat wisata yang sangat terkenal di Mancanegara. Jarak Desa Ranggo dari Kota Dompu sekitar 9 km, Sarana prasarana desa ini cukup memadai untuk ukuran desa. Ada 5 Sekolah dasar, 1 MI 1 SMP, dan 1 pesantren terdiri dari MI, MTS dan SMA IT. Sarana kesehatan cukup lengkap ada Puskesmas yang melayani rawat inap lengkap dengan dokter, perawat dan bidan. Tingkat partisipasi masyarakat terhadap posyandu cukup tinggi rata rata 60% diseluruh Posyandu. Masyarakat desa Ranggo umunya hidup sebagai petani tetapi banyak juga yang pegawai negeri karena memang letaknya yang dekat Kota Kabupaten.

Plan bekerja di Ranggo sudah 13 tahun, hmmm bukan waktu yang singkat. Konsekwensinya tentu banyak sekali anak dampingan yang sudah dewasa dan umurnya sudah lebih 18 tahun. Dari 700 anak dampingan tahun 1999 tersisa 590 anak dampingan pada Juli 2010, ada sekitar 110 anak dampingan yang sudah resign karena mereka sudah dewasa, ada juga yang improved dan pindah ikut keluarga dan bahkan ada juga yang ke Malaysia.

Tersebutlah Junaidin, anak dampingan berumur 18 tahun adalah salah satu yang akan di Cancel karena udah dewasa. Pertama kali saya mencari rumahnya, tidak terlalu sulit karena memang 11 tahun yang lalu saya sudah pernah bertugas di desa Ranggo. Di antar kader kami coba telusuri gang sebelah utara lapangan sepak bola Desa Ranggo ke arah barat setelah melewati beberapa rumah, kami (dibaca; saya dan ibu asmah kader komunikasi) belok ke utara di sela-sela rumah yang letaknya tidak beraturan, setelah bertanya beberapa orang akhirya ketemu juga rumah tesebut.

Terlihatlah rumah panggung yang sederhana dengan kayu dan cat yang sudah lusuh, genteng yang udah kusam, kondisi tersebut kontras dengan senyuman tulus keluarga ini menyambut kami datang betul-betul menyejukan hati. Dengan rumah panggung 2 kamar, kamar tamu sekaligus kamar tidur tanpa kursi dengan tikar pandan yang sudah lusuh dan dapur sekaligus tempat tidur pula buat ibu dan sorang adik perempuan yang berumur 5 tahun. Saya tersentuh,  saya datang untuk perkenalan sekaligus perpisahan karena keluarga ini akan di Cancel dari system mengingat anak yang disponsor sudah 18 tahun, berat hati untuk menyampaikan hal tersebut, saya mulai memikirkan kata apa  yang pantas disampaikan untuk maksud kedatangan saya.

“Pak, ibu saya dari Plan, nama saya Thamrin, saya menggantikan Mas Bambang yang sudah pindah, maksud kedatangan saya ingin menyampaikan terimakasih yang se-besar2nya dari Plan atas kerjasamanya selama ini dengan lembaga kami. Karena Plan ini adalah lembaga yang berfokus pada anak dan kebetulan anak bapak dan Ibu ini udah dewasa maka di system kami sudah tidak termasuk anak lagi sehingga harus putuskan kerjasama yang sudah terjalin selama ini. Ini bukan berarti anak ibu tidak bisa mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Plan, tapi hanya tidak termasuk dalam keluarga dampingan yang tercatat di sistem. Pemberian pemahaman tersebut terasa sangat berat buat saya mengingat kondisi mereka yang masih sederhana walaupun mayoritas keluarga dampingan di desa Ranggo udah bisa dibilang layak untuk di cancel.

Alhamdulillah ternyata Pak Yamin dan Ibu Mujnah sangat memahami penjelasan dari saya; “Kami memahami dan mengerti karena memang sejak awal ketika di foto pertamakali sudah dijelaskan oleh petugas Plan dan Kepala Desa waktu itu, bahwa Plan tugasnya membantu anak” ujar pak Yamin yang ditimpali oleh Ibu Mujnah, ” Iya pak tidak apa-apa, apakah bisa diganti oleh adiknya, ini ada anak saya yang perempuan supaya kami tidak putus hubungan dengan Plan”. Pertanyaan ibu Mujnah membuat saya tergagap untuk menjawabnya, karena begitu besar cinta ibu Mujnah terhadap Plan dan dia sadar betul bahwa Plan dapat membantu anak-anaknya. Saya hanya bisa mengatakan bahwa Plan Dompu saat ini mulai melakukan pengurangan terhadap keluarga dampingan yang dimulai dari anak dampingan yang berumur 18 tahun dan sudah tidak bisa tambah lagi. Ada raut harapan besar dari guratan wajah ibu Mujnah dan bapak Yamin agar Junaidin bisa diganti oleh adiknya. Tapi memang situasi tidak memungkinkan untuk Plan menambah lagi keluarga dampingan. Diakhir perbincangan tidak ada kata yang bisa saya sampaikan kecuali terimakasih atas kerjasamanya selama ini dan mohon maaf bila selama bekerjasama dengan Plan tersua sesuatu yang tidak berkenan.

Saat itu perasaan saya campur aduk, satu sisi saya bangga menjadi bagian dari mereka tapi juga saya sedih kenapa pertama berjumpa harus berpisah???

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pemberdayaan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Bertemu untuk berpisah

  1. Goda-Gado berkata:

    wah wah..
    kerjanya sosial gitu to??

    bisa dijelasin lebih utuh lagi
    mungkin di posting yg mendatang

    kayaknya menarik nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s