Meraih Mimpi Dengan Keterbatasan

Wajah penuh ceria terpancar dari raut seorang anak lelaki 6 tahun, Jaya Wardhani namanya. Bersama ayahnya pak Junaidin berangkat ke sekolah, hari itu merupakan hari pertama Jaya masuk sekolah. Peristiwa tersebut terjadi pada sebelas tahun yang lalu lebih tepatnya tahun 1999. Pada awalnya lelaki kelahiran 20 Mei 1994 tidak tertarik untuk sekolah, tapi ketika dia melihat kakaknya pergi ke sekolah, membuat anak ke dua dari empat bersaudara ini juga ingin ikut sekolah.

Mulanya kepala sekolah dan guru agak ragu untuk menerimanya, karena tidak memiliki guru khusus buat anak luar biasa, tapi Kepala sekolah dan para guru melihat semangat anak yang lahir dari pasangan Junaidin dan Asma, untuk masuk sekolah membuat pihak sekolah merasa iba bila tidak diterima.

Pak Lukman Muhammad sebagai Kepala Sekolah dengan dewan guru serta komite mengadakan rapat untuk membicarakan persoalan Jaya. Pak Junaidin dan ibu Asmah sebagai orang tua juga di undang untuk ikut rapat sebagai narasumber yang bisa meyakinkan pihak sekolah untuk menerima anak mereka. Kepala Sekolah mempersilakan Pak Junaidin untuk menceritakan keseharian Jaya dirumah. ” Semangat anak ini luar biasa dan membuat saya sangat terharu karena dengan kekurangannya dia merasa bukan penghalang buat dirinya untuk berbaur dengan kakak dan teman-temannya disekitar rumah”, ujar pak Junaidin sambil mengeluarkan saputangannya untuk membersihkan mukanya yang penuh dengan peluh. Lanjutnya ”Pengalaman saya selama ini setiap berinteraksi dengan dia tetap menggunakan bahasa Mbojo dan bahasa Indonesia seolah-olah saya berbicara layaknya dengan anak normal lainnya, Alhamdulillah dengan terbiasa menggunakan bahasa seperti itu anak saya bisa mengerti apa yang saya katakan walaupun akhirnya saya harus ber ulang-ulang untuk mengatakan supaya dia bisa mengerti”. Ibu Asmah begitu terharu dan tidak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan suaminya pada dewan guru yang ada.

Setelah mendengar penjelasan dan cerita dari orangtua Jaya Wardhani, dengan berbagai pertimbangan, salah satunya adalah motivasi Jaya yang kuat untuk sekolah dan pertimbangan tidak tersedianya SLB di Desa Ranggo Kecamatan Pajo Kabupaten Dompu, maka pihak sekolah memutuskan untuk menerima Jaya sebagai siswa di sekolah SDN 01 Pajo.

Selama belajar di SDN 01 Pajo, Lelaki yang penuh percaya diri ini setiap penerimaan raport selalu ingin mendapat rangking seperti layaknya teman-temannya yang berprestasi, bila tidak mendapatkan Jaya tidak mau masuk sekolah dan menangis meraung-raung. Melihat situasi seperti itu Kepala Sekolah dan dewan guru memutuskan setiap Jaya Wardhani naik kelas harus diberi piagam penghargaan khusus atau hadiah berupa buku atau apa saja untuk tetap menjaga semangatnya mengikuti proses pembelajaran.                                              

Sebagai orang tua pak Junaidin dan ibu Asma sangat menyadari kondisi anaknya yang tunarungu, pasti akan mengalami kesulitan bergaul dengan lingkungannya, berangkat dari kesadaran tersebut, sejak kecil jaya sudah dididik untuk mandiri dan diperlakukan seperti anak normal lainnya.

Perlakuan dan didikan orang tuanya membawa dampak yang luar biasa terhadap pengembangan kepribadian Jaya. Seperti anak sebayanya, dia melakukan aktivitas tanpa merasa canggung, setiap hari berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya, Jaya tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam melakukan aktivitasnya.

Jaya melakoni hari-harinya bersama teman-teman tanpa ada jarak, mereka bergaul seolah Jaya seperti anak normal lainnya. Sepintas memang orang tidak akan menyangka bahwa Jaya Wardana adalah seorang anak yang tuna rungu.

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, tidak terasa jaya wardana telah 10 tahun mengikuti pendidikan formal reguler tanpa melewati SLB. Prestasi jaya tidak kalah dengan anak-anak lainnya, dengan keterbatasannya pada tahun 2006 jaya lulus dari SD dengan nilai rata-rata di atas yang ditetapkan oleh pemerintah. Prestasi ini juga kebanyakan dicapai oleh anak-anak di Kecamatan Pajo.Sekarang Jaya wardana sudah menamatkan SMPnya dan selama bersekolah di SMP Jaya aktif mengikuti kegiatan-kegiatan kesiswaan seperti Pramuka dan ekstrakurikuler lainnya dengan penuh percaya diri dan tersenyum optimis merajut masa depannya

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Transformasi Pendidikan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Meraih Mimpi Dengan Keterbatasan

  1. NEORONI berkata:

    Mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s