Si Fulan dan Pilihannya

Dengan baju coklat, langkah gontai, muka awut-awutan, ada kekecewaan terpancar dari raut wajahnya. Sambil duduk termenung sifulana meratapi nasibnya karena Jagoana kalah dalam memperebutkan orang nomor 1 di Kabupaten Antah Beranta.

Hampir 2 bulan ini loyalitas si fulana luar biasa terhadap Jagoana karena kalo gak ”loyal” nanti bisa dicopot ama Jagoana. Setiap kesempatan kemanapun fulana pergi selalu dia mepromosikan Jagoana, program-programnya, sampai kebaikan-kebaikan Jagoana diobral habis sama sifulana. Begitu dekanya hubungan sifulana dengan Jagoana muncul ideom diantara staff dimana ada Jagoana disitu ada Fulana. Luar biasa sifulana seharusnya dia bukan PNS tetapi lebih tepat sebagai salesman sejati yang menjual barangnya agar laku dan disukai konsumen. Karena loyalitasnya ini si Fulana tetap dipertahankan oleh Jagoana untuk menduduki jabatannya sekarang.

Beda dengan si Fulani, dia menjagokan Jagoani jagoan yang menjadi rival Jagoana, sama seperti si fulana dia juga mempromosikan Jagoani dengan segala cara, program-program Jagoani hampir tidak terlepas dari mulutnya, ditambah kejelekan-kejelekan Jagoana juga menghiasi bibir manis siFulani. Aktifitas politik sifulani membuat dirinya lupa akan jati diri sebagai PNS yang melayani masyarakat. Begitu vulgarnya aktivitas si Fulani kemana-mana dia selalu hadir setiap kegiatan politik yang dilakukan oleh Jagoani dan bahkan peran yang dimaninkan melebihi team sukses. Gejala ini membuat geram lawan politiknya dan dengan serta merta aktivitas fulani sampai juga ke telinga Jagoana, bahwa si fulani tidak mendukung Jagoana. Mendengar kabar seperti itu si Jagoana langsung mendemosikan si Fulani, si Fulani tidak perduli, dia semakin terang-terangan melakukan kampanye untuk Jagoani, tak perduli Jagoana orang no 1 di kabupaten Antah Beranta yang penting memenangkan Jagoani begitu prinsip si Fulani.

Ada hal yang menggelikan, lucu sekaligus memprihatinkan. Sifulana dan sifulani yang PNS seharusnya netral, justeru menceburkan diri mereka kedalam Politik praktis (lihat UU No. 34 Tahun 1999). Waktu dan energi mereka habis untuk menggadang jagoannya masing-masing. Tugas utama sebagai PNS yang melayani masyarakat dengan baik menjadi optional duty. Sementara berkampanye, mempromosikan jagoan, mencari pengikut, berkoalisi layaknya politikus menjadi Tugas Utama siFulana dan siFulani. Gelagat ini merusak tatanan yang sudah ada dan ini akan membebani rakyat dikemudian hari. Motivasi siFulana dan sifulani melakukan ini tidak lain karena hanya ingin memperbaiki karier dengan kompetensi dan kemampuan mereka yang terbatas. Sifulana dan Sifulani ingin juga dipromosi layaknya orang-orang pada umumnya, mereka dengan pede mengatakan  bahwa saya pantas untuk memegang jabatan, masa saya tidak bisa di promosi seperti orang lain? Situasi ini bukan semata kesalahan  si fulana dan sifulani tetapi lingkunganlah yang membentuk mereka seperti itu. Lingkungan yang tidak menggunakan ukuran-ukuran kompetensi yang jelas untuk mempromosikan atau mendemosikan staff. Ukurannya like and dislike, maka berlomba-lombalah staff dibawah untuk dapat disukai oleh atasannya dengan melakukan pedekate dan bahkan menyetor amplop bukan dengan menunjukan kompetensi. Secara masif hal ini juga tertular ke teman kerja Fulana dan Fulani sehingga ada kubu-kubuan dilingkungan kerja mereka. Gejala-gejala seperti ini sudah sangat mengkhawatirkan dimana dampak langsung dari situasi dan lingkungan yang tidak kondusif tersebut pada motivasi kerja dan prestasi karyawan yang sangat menurun, karena anggapan mereka untuk apa kerja bagus toh yang dipromosi bukan berdasarkan kompetensi tapi kedekatan.

Untuk mengatasi itu semua Jagoani yang menjadi Bupati terpilih di Kabupaten Antah berantah harus kerja keras; reformasi birokrasi menjadi prioritas untuk meningkatkan optimalisasi aparat pemerintah dalam melayani masyarakat. Aparat pemerintah dikembalikan fungsinya sesuai undang-undang yang berlaku, mereka tidak dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang berbau politik, Biarkan mereka dengan kenetralannya. Semoga kisah sifulana dan sifulani tidak pernah terjadi di Dompu kita tercinta, amiin.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Politik. Tandai permalink.

6 Balasan ke Si Fulan dan Pilihannya

  1. Roni berkata:

    Gaya bertutur dan analogi yang menarik dae.. top bangetlah!

  2. duma berkata:

    Bono, kita coba bikin buku cerita anak yukkkk

    • derao berkata:

      aku mo nulis perjalanan Dewan anak dompu yang berawal dari beberapa sanggar dengan cita2 sederhana untuk membantu anak kelas 5 dan 6 yang belum bisa baca tulis tahun 1999 dan 2000. Sy setuju duma, bila punya ide mo nulis buku cerita anak, kita ramu aja idenya spt apa.

  3. Goda-Gado berkata:

    Indonesia…
    ABS bang….

    😦
    *sedih rasanya

    • derao berkata:

      itulah mas yang menjadi keprihatinan saya saat ini, jabatan-jabatan bukan diserahkan kepada ahlinya, tapi berdasarkan kedekatan, negeri ini benar-benar mabok mas, bingung jadinya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s