Mengenang pertamakali aku bergabung dengan Plan

Plan pertama kali terdengar olehku dari temanku sendiri, waktu itu dia memberi info kepadaku bahwa Plan membuka Lowongan untuk petugas Lapangan (dibaca: CDF), batas akhir pendaftaran tgl 20 Pebruari 1999. Saat itu aku belum ngerti apa itu Plan, buatku Plan itu sesuatu yang tidak friendly sesuatu yang asing. Rasa penasaranku terhadap informasi yang di sampaikan temanku, membuat diriku penasaran juga untuk melihat pengumuman lowongan yang di Tempel di Kaca Depan Kantor Plan, waktu itu Plan berkantor di Jl Akasia Dompu. Setelah aku melihat, ternyata pengumumannya pakai bahasa Inggeris, dalam hati aku nyeletuk, ”gile ni kantor pengumumannya buat orang Dompu menggunakan bahasa Inggeris, gimana pengumumannya untuk orang Inggeris, pake Bahasa apa ya”.Nyaliku untuk melamar ciut karena aku berpikir pengumuman lowongan aja menggunakan bahasa Inggeris, berarti segala urusan surat menyurat menggunakan bahasa Inggeris, berarti bahasa pergaulan dalam kantor Pakai bahasa Inggeris, berarti dikantor ini banyak bule yang kerja. Anggapanku tidak satupun mendukung diriku untuk bergabung dengan Plan, tipis harapan rasanya.

Aku merenung untuk beberapa hari sebelum pengumuman tersebut di tutup, aku mulai berpikir, apa ruginya kalo aku masukin lamaran, mengingat aku udah punya tanggungan (karena aku udah menikah), ini kesempatan untuk memutus mata rantai yang namanya PENGANGGURAN TERDIDIK, siapa tahu bule-bule nya bisa bahasa Indonesia dan mungkin juga bisa bahasa Dompu, begitulah aku mencoba untuk memupuk keberanian dan kepercayaan diriku dan akhirnya aku persiapkan segala persyaratan, foto capy ijazah SARJANAku, termasuk pengalamanku, dengan penuh hati-hati aku menulis surat lamaran. Ada kesulitan ketika menulis surat lamaran karena memang harus rapi, harus rata dan tidak boleh ada coretan sedikitpun, malam itu aku habiskan kertas double folio 5 lembar karena selalu salah, maklum lah tulisanku sangat jelek dan susah dibaca oleh orang lain. Setelah semua bahan lengkap, dicek satu per satu; surat lamaran, pengalaman kerja, foto copy IJAZAH, kartu kuning, dan amplop coklat untuk memasukan bahan-bahan dan surat lamarannya. Setelah semua lengkap, karena ini hari terakhir lamaran akan di tutup, akhirnya aku putuskan untuk mengirim lamaranku via Pos karena takut berhadapan langsung dengan bule-bule di Kantor Plan bisa-bisa tingkat percaya diriku menurun. Setelah beberapa hari akhirnya aku dipanggil untuk mengikuti test wawancara, kalau orang lain pasti bangga mendapatkan panggilan seperti itu, tapi aku justeru sebaliknya ketakutan yang luar biasa, waktu itu untuk mengikuti test wawancara aku harus melawan diriku sendiri. Tapi demi isteri dan jabang bayi yang dikandung aku maju pantang mundur walaupun sebenarnya mau pingsan.

Sesuai dengan surat panggilan bahwa saya harus hadir di kantor Plan, saat itu aku lupa tanggal berapa, seingatku ada 12 orang yang dipanggil untuk mengikuti test wawancara hari itu. Aku dengan 11 orang rekanku dikumpulkan dan diminta oleh salah satu staff senior untuk menulis nama pada 12 nomor yang disediakan dan kami dipersilakan untuk memilih sendiri urutan untuk mendapat giliran diwawancarai,  diawali dengan mengucap Basmallah aku menulis namaku pada nomor urut 5.

Masih segar dalam ingatanku waktu itu kami ber 12 diwawancarai oleh Pak Rachmat Suhanda(ETL Plan Dompu), Pak Asfan Syufainal (ETL Plan Sumbawa) dan Pak Mansuetus Kapoh (Plan CO). Sambil menunggu dipanggil aku mencoba untuk terus menenangkan diri, saat giliranku tiba, hilang semua rasa ketakutan, ada motivasi yang kuat untuk tampil sebaik-baiknya di depan pewawancara, aku harus bisa meyakinkan orang-orang ini bahwa aku memang pantas untuk diterima di Plan Dompu, begitu tekadku.

Setelah pewawancara melihat CV ku dengan seksama, terdengar lah celetukan pertama dari Pak Mansuetus; “anda pengalamannya di project fisik, kok mau ngalamar di Plan yang membangun non fisik, ini lembaga pemberdayaan lho”, aku sangat memahami keragu-raguan pak Mansuetus terhadap aku, karena memang di pengalaman kerjaku tidak ada satu pun yang menunjukan bahwa aku pernah kerja di LSM. Tapi tidak tahu entah kekuatan dari mana aku enteng sekali menjawab, ”Pak itu kan tantangan buat saya dan menurut saya kedua duanya sama. Sama-sama membangun, saya pengalaman membangun di fisik, maka Insya Allah saya juga bisa membangun masyarakat”. Hanya itu yang aku jawab, sederhana sekali.

Pernyataan tersebut mungkin menarik perhatian Pak Asfan Syufainal; beliau menimpali, “Ok kalo begitu, apa yang dilakukan untuk membangun masyarakat supaya lebih baik kehidupannya”? dengan lugu dan penuh keyakinan aku menjawab : “Gampang pak, beri aja kegiatan tambahan buat masyarakat yang bisa memberikan penghasilan”. Pak Asfan mencerca lagi dengan pertanyaan, “Kegiatan apa menurut anda”, dengan pedenya aku menjawab. “ Ternak bebek pak”., aku tidak tahu dari mana datangnya ternak bebek, tiba-tiba aja muncul di kepalaku sekenanya aja menjawab. Pak Asfan terus mengejar, “berapa tahun anda bisa merubah kehidupan dengan ternak bebek”, dengan enteng lagi aku jawab; ”Setahun bisa pak”, Pak asfan kaget bukan main, “masa sih bisa mensejahterakan dalam waktu 1 Tahun”? Lagi aku jawab spontan; “iya pak, bayangkan mereka sebelumnya tidak punya bebek sekarang udah punya bebek, bebeknya menghasilkan telur, telur yang dihasilkan bisa dijual, jadi mereka ada tambahan pendapatan pak”. Itulah sekelumit wawancara pertamaku ketika bersentuhan dengan Plan International. Setelah satu jam aku diwawancarai oleh 3 “PAKAR” akhirnya selesai dengan perasan lega dan plong yang luar biasa, aku dengan penuh keyakinan dan tangan dingin (benar-benar dingin) menjabat tangan ketiga Pewawancara tersebut.

Setelah 2 minggu aku menunggu hasil test wawancara ternyata belum juga ada kabar, akhirnya aku beranikan diri untuk pergi ke Kantor Plan. Dengan vespa butut kakak ku, aku menyusuri jalan Gajah Mada, diujung jalan berhenti sebentar di satu-satunya lampu lalulintas yang ada di Dompu saat itu, setelah lampu hijau menyala kulanjutkan perjalananku menyusuri Asrama Tentara, diujung Jl Wirabakti ada perempatan aku belo kanan sedikit dan berhentilah vespa butut depan kantor Plan. Dengan sedikit ragu-ragu aku masuk kantor Plan; “Assalamu’alaikum”, tiba-tiba dari dalam ada yang nyahut; “wa’alaikumussalam”, pria yang menjawab tersebut namanya Eka Hadiyanto CDF senior yang ada di PU Dompu. Saya membuka percakapan;”Pak saya mau Tanya apakah udah keluar pengumuman yang lulus test wawancara kemarin”. Dijawab sama Pak Eka; “Oh ya sebentar, saya coba lihat dulu ya”, setelah beliau masuk ke dalam mencoba tahu informasi tersebut Pak Eka keluar, ”belum ada mas, nanti kita akan kabari langsung ke rumah masing-masing dengan surat resmi ya”. Setelah mendapat informasi seperti itu aku langsung Pamit, ”Terimaksih pak informasinya”. Seminggu aku menunggu, belum dapat kabar juga, sementara teman-teman yang test dengan aku udah mendapatkan surat pemberitahuan dari Plan bahwa mereka tidak diterima. Hanya aku yang belum jelas. Setelah aku dengan penuh sabar menunggu, akhirnya aku mendapatkan surat pemberitahuan bahwa aku diterima sebagai karyawan Plan efektif 1 April 1999, waktu itu perasaanku campur aduk, ada bangga, terharu, khawatir. Mampukah aku memberi manfaat buat banyak orang di lembaga ini?

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kisahku. Tandai permalink.

7 Balasan ke Mengenang pertamakali aku bergabung dengan Plan

  1. duma berkata:

    Ya, ya .. dari pembangunan fisik berubah menjadi pembangunan manusia .. dari pengemudi vespa bebek jadi peternak bebek .. sungguh suatu perjuangan yang tak berharga dari seorang Muh. Thamrin dari Dompu 🙂 selamat pak pengabdian anda telah mengentaskan beribu anak Dompu yang memiliki masa depan lebih cerah .. maju terus pantang mudur teman. Aku bangga punya sahabat sepertimu 😀

  2. Goda-Gado berkata:

    wkwkwkwkwkwk

    bagus bagus…
    menarik tuh pak
    sekarang dah jd Managing Partners kah??
    hehehehe
    10 th lebih dong?

  3. neoroni berkata:

    great writing dae… Jas Merah kata Bung Karno.. Jangan Sampai Melupakan Sejarah..
    Ehm… cepet banget dah 140 pengunjung neh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s