Sebuah Renungan dari Desa

Walaupun sedikit lelah, perjalanan dari dusun ke dusun, melintasi 3 desa, bertemu berbagai karakter, mendengarkan apa yang mereka katakan, menyelami apa yang menjadi persoalan mereka, membuka pikiran kita dan juga mereka dengan saling share dan interaksi yang diselingi dengan tawa, canda, dan keharuan serta empati. Sungguh suatu moment yang amazing, luar biasa dan membikin kita semakin bersyukur kehadirat Allah SWT.

Ternyata masyarakat kita sangat kuat, mereka bisa hidup dengan keterbatasan yang dimiliki, mereka nyaman dengan fasilitas yang minim, mereka bahagia walau tanpa hiburan, bisakah kita seperti mereka? Apakah ini wujud resistensi mereka terhadap “Kemapanan”?, Jangan – jangan mereka lebih mapan dari kita, atau kita aja yang menganggap diri kita mapan padahal sebenarnya kita tidak sekuat dan semapan mereka.

Pada hakekatnya mereka lebih “kaya” dari kita, karena mereka memiliki rasa syukur yang tiada henti(merasa kaya), mereka rendah hati (kaya hati), mereka respek terhadap diri dan orang lain, mereka lebih kuat dan ikhlas menjalani dan menghadapi tantangan dengan segala keterbatasan yang ada. Hal-hal seperti itu semakin menyadarkan bahwa sebenarnya kita bukan lagi memfasilitasi tapi kita belajar bersama, tumbuh bersama dan meraih cita bersama dengan mereka..

Belajar bersama, tumbuh bersama dan meraih cita bersama harus  terinternalisasi dalam diri kita untuk memurnikan gerakan pemberdayaan masyarakat dan anak; Belajar bersama merupakan sebuah pengakuan akan eksistensi komunitas dalam situasi apapun, kondisi apapun bahwa mereka pasti memiliki potensi, kemampuan dan keterampilan yang bermanfaat. Tumbuh bersama adalah pengakuan terhadap komunitas bahwa mereka berubah, kita berubah karena ada proses pembelajaran antara satu dengan yang lain, tidak ada yang menggurui tetapi saling belajar untuk tumbuh bersama. Meraih cita bersama merupakan impian yang dibangun bersama dari proses belajar bersama dan tumbuh bersama.

Antara kita dengan masyarakat sudah tidak ada lagi jarak, sudah tidak ada lagi perbedaan, keduanya harus lebur untuk sama-sama berproses, sama-sama menyelami persoalan yang dihadapi, bersama-sama pula mencarikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi dengan saling menghargai potensi dan kemampuan yang dimiliki masing-masing.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pemberdayaan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Sebuah Renungan dari Desa

  1. neoroni berkata:

    nice story… still wanna heard another stories from lembata

  2. neoroni berkata:

    saya sering merenungkan hal yang sama… kadang kita ini tidak bisa sebebas mereka.. terlalu sibuk bersembunyi dalam topeng2 sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s