Sepenggal Kisah….menyambut phaseout Plan Dompu; sebuah tulisan dari file lama; Dompu, 11 November 2010

Pengantar

Plan Indonesia Dompu saat ini salah satu Program Unit tertua di Indonesia, menurut sejarah Plan Indonesia masuk pertamakali di Dompu tahun 1996, dan efektif program tahun 1997. Sudah 14 tahun Plan Indonesia berkarya dan membantu anak-anak di Dompu, tentu 14 tahun banyak sekali dinamika perkembangan yang terjadi baik di masyarakat maupun di Internal Plan Sendiri. Dinamika yang terjadi tidak bisa dihindari dan memang sudah menjadi sunatullah. Setiap siapapun di Dunia pasti mengalami perubahan-perubahan itu termasuk Plan.

Saya mencoba mengungkapkan perubahan-perubahan itu dari perspektif program yang mempengaruhi perjalanan Plan Dompu. Tidak semua penggalan kisah bisa terangkat ditulisan sederhana ini, hanya hal-hal penting saja paling tidak menurut saya yang mempenggaruhi perjalanan Plan Dompu selama 11 tahun terakhir. Dinamika development Dompu saya membaginya menjadi 3 Periode:

  1. Periode Parsial 1999 – 2001.
  2. Periode Integrasi 2001 – 2005
  3. Periode CCCD 2005 -2010

Pembagian dalam 3 periode tersebut berdasarkan pada apa yang saya rasakan, yang saya lihat dan yang saya pikirkan bukan berdasarkan pada hal-hal yang ilmiah, khusus teman-teman Plan Dompu baik staf yang masih aktif maupun staf yang sudah resign, mungkin punya perspektif lain tentang story Plan Dompu, saya kira akan memperkaya tulisan ini.

Periode Parsial 1999 – 2001

Pada 3 bulan pertama sebagai staff baru saya masih belum diberi tanggungjawab caseload karena masih di bimbing oleh para staff senior. Praktis 3 bulan mengikuti apa yang menjadi arahan para staf senior saat itu. Kata lainnya kami sebenarnya magang pada staff senior untuk mempersiapkan diri memegang caseload pada bulan ke 3. Pada saat seperti itu saya hanya melihat dan mengamati seperti apa program yang akan di implementasikan di masyarakat. Bulan Juli 1999 untuk pertamakali saya diberi tanggung jawab untuk memegang caseload di desa Ranggo, saya bertanggung jawab pada 700 keluarga dampingan. Setelah 3 bulan berjalan saya ditugasi lagi di desa Hu’u dan desa Daha dengan tambahan 600 keluarga dampingan. Jadi total keluarga dampingan yang dipegang saat itu sebanyak 1300 keluarga dampingan mengkau 3 Desa.

Pendekatan awal program yang dilakukan masih sangat parsial, saat itu yang dipikirkan adalah bagaimana ”menyenangkan” hati keluarga dampingan. Sehingga muncul program-program dimasyarakat yang berdasarklan keinginan seperti ternak besar, unggas, benih padi, modal usaha. Untuk sanitasi muncul program WC untuk umum, sumur gali, pompa tangan dan wc keluarga. Sementara di pendidikan yang muncul adalah seragam sekolah, tas sekolah, sepatu sekolah, tabungan pendidikan dan sepeda sekolah. Ditengah gencarnya program-program yang lebih banyak berdasarkan keinginan dari pada kebutuhan apalagi berbasis hak menjadi tantangan tersendiri buat CDF, karena harus memadukan keinginan yang dari bawah dengan konsep-konsep perubahan sebagai cikal bakal program yang mengarusutamakan anak.

Pada saat-saat awal saya masuk hembusan angin perubahan mulai diwacanakan karena memang saat itu mulai disadari bahwa Plan memang harus berubah sesuai dengan perkembangan dan dinamika pembangunan yang berbasis hak. Seperti apakah perubahan itu ke depan? Pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut tersebut bersamaan dengan munculnya beberapa pendekatan program yang mencoba mengaddress issue-issue strategis di Masyarakat maupun individu. Salah satunya saat itu saya dikenalkan dengan FDO (Family Development Objective)=Tujuan pengembangan keluarga. Metode ini kami praktekan bersama teman-teman Plan Dompu, Plan Bima, Plan Sumbawa dan Plan Lombok Timur di wilayah kerja Plan Bima. Yang memfasilitasi kegiatan tersebut adalah mas Wawan CDF Ponorogo. Dengan menggunakan tools tersebut kami melakukan wawancara dan dikusi dengan masing-masing keluarga yang menjadi sampel kegiatan untuk mengetahui tujuan keluarga ke depan seperti apa disesuaikan dengan potensi dan kemampuan yang ada dalam keluarga tersebut. Hasilnya luar biasa sangat mencengangkan bahwa untuk mencapai cita-cita keluarga ke depan maka program-program yang akan dilakukan bukanlah ternak besar, bukan pula unggas bukan juga benih padi, tetapi justeru hal-hal strategis, seperti menyekolahkan anak dengan baik, menjamin ketercukupan pangannya oleh ortu dll. Luar biasa hasilnya, tapi susah sekali kami mempraktekan di PU masing-masing karena memang sumber daya dan kemampuan yang tidak mencukupi, jadi hanya sebatas pengetahuan saja.

Selain FDO masa-masa ini ada juga model pendekatan program yang lain yang dikenal dengan CFCDA (Child Focused Community Development Approach)= Pendekatan pengembangan masyarakat yang berfokus pada anak. Terus terang aja saya hanya mempelajari kulit-kulitnya aja untuk pendekatan ini tetapi yang saya tahu CFCDA merupakan cikal bakal pengarusutamaan anak. Pengarusutamaan anak menjadi cikal bakal CCCD(Child Centre Community Development)= Pengembangan Masyarakat yang berpusat pada anak. Proses-proses pendekatan tersebut mulai mengarah pada pengembangan masyarakat yang berbasis hak.

Selain pendekatan program juga sudah muncul  program yang mengaddress hak anak untuk tumbuh dan berkembang seperti ECCD atau Asuhan dini tumbuh kembang anak. Kelompok bermain atau kelompok ADITUKA akan menjadi institusi Desa yang dikelola oleh relawan desa dan dibiayai oleh masyarakat untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangannya anak usia dini pada periode golden age. Pada awal program ECCD, kelompok bermain yang terbentuk dan berdiri baru 4 play group pada 4 Desa dampingan Plan.

Untuk matapencaharian walaupun bantuan masih berdasarkan keinginan tapi polesannya udah mengarah kepada pemberdayaan pada masyrakat. Bantuan-bantuan tersebut di organisir dalam Kelompok Usaha Bersama di 33 Dusun dampingan Plan. Namun sayangnya konsep ke depannya masih belum jelas sehingga ada semacam kejenuhan dari KUB yang ada. Sementara Plan Dompu sendiri tidak memiliki sumber daya yang kuat untuk mendesign secara holistik konsep KUB ini kedepannya, sehingga KUB satu per satu rontok dan yang bertahan hanya KUB yang mampu membuka jaringan dengan pihak-pihak terkait lainnya.

Periode Integrasi 2001-2005

Periode ini merupakan saat-saat transisi dimana program yang bersifat charity seimbang dengan program pemberdayaan. Persoalan pendidikan, kesehatan dan matapencaharian mulai mengarah kepada solusi dengan pertimbangan pemberdayaan, peningkatan kapasitas dan penguatan kelompok. Atas pertimbangan 3 hal tersebut maka program yang di drive di Plan Dompu adalah;

Pembentukan dan penguatan sanggar anak di 33 Dusun dengan maksud agar anak-anak bisa mengembangkan bakat, minat dan kemampuannya tentunya dibawah bimbingan orang dewasa. Plan Dompu menggandeng beberapa teman NGO pada awal-awalnya dan dipertengahan program karena dilakukan evaluasi berkala terhadap hasil pendampingan yang dilakukan yang bertahan hanya satu Mitra pendamping di Dompu. Pada periode inilah terbentuknya Dewan Anak Dompu yang dibentuk oleh perkumpulan 33 sanggar yang ada diwilayah dampingan Plan Dompu. Dewan Anak Dompu dibentuk dengan harapan bisa sebagai wadah anak untuk bersama memperjuangkan hak-hak anak yang ada di Dompu.

Sementara di program pendidikan mulai di susun blueprint program transformasi pendidikan untuk Plan di NTB. Blueprint ini mencoba masuk ke institusi pendidikan itu sendiri yang selama ini belum sempat dilakukan karena memang sumberdaya yang dimiliki belum memungkinkan untuk masuk langsung ke institusinya. Yang dilakukan selama ini hanya lah bermain diluar Institusinya sehingga tidak heran muncul lah school uniform tadi. Pada Transformasi pendidikan tidak demikian tetapi membenahi proses pembelajarannya, menkapasitasi gurunya, membenahi pula manajemen sekolahnya dan mencoba untuk melibatkan masyarakat sekitar dan anak untuk ikut berpartisipasi mengembangkan sekolah mereka. Penguatan-penguatan dan kapasitasi komite sekolah juga menjadi prioritas agar mereka bisa berperan aktif di sekolahnya.

Khusus untuk peningkatan partisipasi anak di sekolah Plan dompu mengintegrasikan kegiatan tersebut dengan kegiatan Sanggar, anak dikapasitasi di tingkat sanggar dengan berbagai keterampilan sesuai dengan bakat dan minat mereka, di sanggar pula anak juga dibiasakan untuk mengelola sanggar sehingga anak terbiasa mengungkapkan pendapatnya. Di sanggarpun ada proses tutor sebaya buat teman-teman yang mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran dan hal ini diakui oleh guru dan kepala sekolah sangat signifikan pengaruhnya terhadap kemampuan anak. Sementara di Play group mengakomodir anak-anak usia dini yang ada di desa sehingga ketika masuk sanggar dan sekolah anak tersebut tidak mengalami kesulitan penyesuaian diri.

 Untuk matapencaharian udah mulai mengarah kepada peningkatan keterampilan keluarga dampingan, yang dikelompokan berdasarkan minat dan bakat yang dimiliki sehingga ditingkat masyarakat ada yang namanya kelompok menjahit, kelompok jajan, kelompok tenun dll. Pada masa ini program-program yang difasilitasi Plan mulai mencari bentuk dan fokus dengan mendesign strategi yang lebih komrehensif dan terintegrasi satu dengan yang lainnya

Pada periode ini pula sekitar tahun 2001 kami sudah mulai dilatih tentang CCCD, saat itu kesan saya bahwa CCCD adalah PRA yang ditambah dengan partisipasi anak. CCCD yang dikembangkan lebih kepada tools yang digunakan sehingga muncul kesan seperti itu. Saya belum menangkap Roh dari CCCD saat itu.

Pengarusutaman Gender  juga menghiasi periode-periode ini. Pada awalnya seluruh staff NTB dikumpulkan dimataram untuk mengikuti pelatihan Gender buat staff, saat itu kami baru pada pelatihan dasar gender dan menganalisis gender di masyarakat. Pelatihannya berlangsung di Mataram, dan praktek lapangannya diwilayah Plan Lombok timur. Sekembali dari pelatihan ini Plan dompu langsung menindaklanjuti dengan melakukan TOT Gender untuk kader Plan yang ada di desa dampingan Plan. Alumni TOT ini dimasing-masing desa memfasilitasi pelatihan dasar tentang gender buat tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan perwakilan keluarga dampingan. Kalau kita bicara gender Insya Allah masyarakat di wilayah dampingan Plan tahu itu gender. Hanya persoalannya apakah kesadaran gender tersebut diejawantahkan dalam kehidupan sehari –hari ??? pertanyaan ini akan terjawab setelah kita mengevaluasi program-program Plan di dompu dengan melakukan analisis gender terhadap program-program tersebut.

Masa-masa transisi ini penuh dengan pergolakan dan resistensi dari masyarakat karena sudah terbiasa dengan bantuan-bantuan yang bersifat individu sehingga staff kerja ekstra untuk menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi. Dengan semangat dan militansi yang kuat dari teman-teman untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat dan anak-anak, masa- masa tersebut terlewati dengan sukses dan gemilang

Periode CCCD 2005 – 2010

2005 saya baru clear tentang CCCD ketika di fasilitasi oleh Pak Hiro. Munculnya CCCD di Plan itu merupakan pengejewantahan dari vissi dan missi Plan itu sendiri berdasarkan pada pengalaman dan pembelajaran selama kegiatan pembangunan dari waktu ke waktu dalam masyarakat. Hal-hal yang baik masih dipertahankan dan hal-hal yang masih kurang disempurnakan dan hal-hal yang tidak relevan ditinggalkan. CCCD adalah sebuah pendekatan pemberdayaan masyarakat yang berbasis hak, dimana anak, keluarga dan masyarakat aktif berpartisipasi dalam proses pemberdayaan mereka.  Meningkatkan kapasitas dan kesempatan mereka untuk bekerja bersama, untuk mengadress penyebab “struktural” dan akibat – akibat dari kemiskinan anak pada semua tingkatan. Pemahaman terhadap CCCD ini bukan hanya sekedar alat tetapi merupakan strategi dari Plan untuk mempromosikan hak anak dan mengakhiri kemiskinan pada anak.

Masa-masa transisi sudah terlewati dengan gemilang, penataan program yang lebih baik mulai dilakukan mengikuti  perintah Plan dengan menggunakan CCCD untuk mempromosikan hak-hak anak dan mengakhiri kemiskinan pada anak. Kapasitas dan kemampuan yang dimiliki oleh Plan Dompu sangat memungkinkan untuk mendesaign program sesuai dengan pendekatan CCCD. Dalam PUSP PU Dompu goal besarnya adalah; Anak laki-laki dan anak perempuan dari keluarga yang paling tidak beruntung di Kabupaten Dompu  terjamin  haknya untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Dari goal PUSP diterjemahkan ke dalam objective program yaitu :

  1. Mengurangi proporsi  gizi buruk dan gizi kurang pada anak balita laki dan perempuan   di kabupaten Dompu dari  35  %( CPME ) menjadi   20  % pada akhir Tahun 2010.
  2. Meningkatkan prosentase anak laki-laki dan  perempuan usia 6 – 15 tahun yang mendapatkan pendidikan dasar yang ramah anak  dari 27 % anak menjadi 55 %  di empat kecamatan di kab dompu pada akhir tahun 2010.

Penurunan angka malnutrisi balita diintervensi dengan project Ketahanan Pangan dan Gizi. Pada awalnya project ini dilakukan dengan melakukan survey ketahanan pangan dan gizi. Dari hasil data survey ditemukan gizi buruk 3%, gizi kurang 23,5% dari 842 balita yang disurvey. Dari hasil survey juga diketahui penyebab malnutrisi tersebut adalah, PMT yang terlalu cepat, pola asuh, tidak diimunisasi sesuai petunjuk dan Sanitasi lingkungan yang buruk. Berdasarkan data yang ada maka di design program Ketahanan Pangan dan Gizi dimana tujuan programnya berkurangnya kekurangan gizi pada balita. Pola Intervensi yang dilakukan adalah membentuk, memperkuat dan mengakapasitasi komite ketahanan pangan dan gizi desa, melakukan advokasi ke Dinas terkait, menghubungkan dengan instansi pemerintah baik di Desa, Kecamatan, Kabupaten maupun Propinsi. Saat ini komite FNS telah berhasil menekan gizi buruk menjadi 1,30% dan gizi kurang menjadi 18,60%. Komite ketahanan pangan dan gizi juga memiliki jaringan  dengan pemerintah Kabupaten maupun pemerintah Propinsi. Dengan keberhasilan tersebut program Ketahanan pangan dan gizi sedang direplikasi diluar desa Pilot yang dibiayai secara bersama dengan dinas terkait.

Sanitasi lingkungan membawa pengaruh juga terhadap angka malnutrisi sebagaimana hasil survey. Salah satu penyebab kegagalan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) di wilayah dampingan Plan adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam hal perilaku hidup bersih dan sehat. Berdasarkan hal tersebut maka Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Langkah awal yang dilakukan adalah memfasilitasi worlshop pembentukan Poka AMPL Kabupaten dimana dalam workshop tersebut seluruh stakeholders terkait baik pemrintah, swasta LSM dan masyarakat ikut terlibat secara aktif dalam workshop tersebut dan diikuti dengan membentuk dan memperkuat Komite STBM kecamatan yang tugasnya memfasilitasi komite STBM desa sebagai unjung tombak untuk merubah perilaku masyarakat terhadap sanitasi dan lingkungan. Yang paling menarik anak-anak yang tergabung dalam sanggar menjadi motivator sekaligus “Polisi Tai” yang memastikan bahwa di desa tidak akan ada masyarakat dan anak yang melakukan BAB sembarang tempat. Saat ini sudah 3 Desa yang mendeklarasikan Stop BAB sembarangan di Dompu 2 desa di fasilitasi Plan dan 1 desa sebagai replikasi difasilitasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten. 3 Desa sedang dalam proses pemicuan oleh komite STBM desa. STBM Kecamatan dan desa yang diprakarsai oleh Plan dan masyarakat sudah menjadi bagian dari Pokja AMPL Kabupaten sehingga seluruh tanggungjawab dan operasional STBM kecamatan dan Desa di bawah Pokja AMPL Kabupaten.

Untuk Pendidikan pola pendekatannya dilakukan per gugus dengan pertimbangan diseminasi program MBS/SIP bisa lebih cepat dan meluas. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar dengan titik berat intervensi adalah, peningkatan kapasitas guru, metode pembelajaran yang bervariasi, Manajemen sekolah yang transparan dan Partisipasi masyarakat dan anak. Intervensi-intervensi tersebut dilakukan melalui gugus berkoordinasi dengan Dinas Dikpora Kabupaten dan UPTD Dikpora Kecamatan. Kegiatan ini harapannya bukan hanya membawa dampak untuk sekolah tetapi juga membawa dampak pada lingkungan masyarakat. Dalam proses intervensi ada sharing antar gugus tentang keberhasilan dan juga kegagalan dalam proses pembelajaran maupun hal lainnya yang menyangkut pendidikan. Keberhasilan dan kegagalan tersebut didokumentasikan dan menjadi bahan ketika melakukan advokasi ke Dinas terkait terutama Dinas Dikpora untuk mereplikasi praktek-praktek positif yang dilakukan disekolah yang difasilitasi Plan. Advokasi yang dilakukan memiliki dampak yang cukup bagus dimana Dinas Dikpora Kabupaten Dompu sangat apresiatif dengan apa yang dilakukan oleh Plan Dompu. Setelah beberapa tahun yang lalu Dinas Dikpora mengeluarkan surat himbauan kepada SD-SD yang ada di Kabupaten Dompu untuk mengunjungi SD yang di dampingi oleh Plan di SDN 06 Pajo, setahun yang lalu Dinas Dikpora mengeluarkan surat yang sama yang ditujukan pada Kepala SD se Kecamatan Dompu untuk mengunjungi SDN 22 Dompu yang ada di Mbawi dalam rangka replikasi. Keberhasilan tersebut membawa dampak pada intervensi yang dilakukan pada gugus dimana setiap diwilayah dampingan Plan berlomba untuk mengadakan kegiatan secara swadaya dengan Fasilitator dari team fasilitator MBS yang dikapasitasi oleh Plan. Hasil temuan oleh INGO diluar Plan menunjukan bahwa sekolah-sekolah yang ada di Kecamatan dampingan Plan angka kelulusannya tinggi dibanding kecamatan yang lain diluar dampingan Plan.

Intervensi-intervensi yang dilakukan juga terintegrasi antara satu dengan yang lain. Untuk project Ketahanan Pangan dan Gizi, sudah mulai masuk ke sekolah-sekolah wilayah dampingan Plan dimana komite pangan dan gizi sudah megadakan pertemuan dengan Sekolah Dasar di lingkungan mereka untuk menawarkan diri memanfaatkan kebun sekolah berupa jagung, singkong, ubi dll untuk diajarkan ke siswa membuat tepung komposit sekaligus jajan sehat sehingga anak tidak perlu lagi membeli snack toko yang tidak sehat.

Program STBM juga sudah masuk ke sekolah diwilayah dampingan Plan dimana komite STBM desa melakukan pemicuan ke sekolah-sekolah. Integrasi ini dirasa perlu karena biasanya anak –anak sekolah tidak malu membuang air besar sembarangan sehingga Komite yang ada mencoba menciptakan metode yang menyenangkan buat anak dan mereka bisa memahami esensi tentang pentingnya buang air di wc. Selain itu guru juga sebagai pendidik juga menjadi target pemicuan karena guru menjadi panutan buat anak-anak maupun masyarakat di sekitarnya. Yang cukup menarik anak-anak tersebut sudah memiliki lagu Jablay Tai dan Cucak Rowo Jamban yang menceritakan betapa susahnya bila orang tidak memiliki jamban.

Dompu, 11 November 2010…

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s