Kisah Anak Kost

Di suatu siang yang terik tahun 1994,  si fulana berjalan gontai dari kostnya di kecubung menuju kampung lawata, keluar dari kost melewati gang di Pura Gomong,  fulana terus berjalan mengarungi teriknya panas siang itu. Usut punya usut ternyata sudah satu bulan kiriman tidak pernah nongol depan mata. Dengan perut keroncongan, mata sayu dan setengah dipaksakan fulana berjalan tegak. Dalam hati fulana bergumam, ” semoga di lawata nanti ada teman yang menawarkan makan siang”. Fulana terus menelusuri gank pura masuk ke sakura IV sambil terus berjalan ke arah barat melewati Masjid menuju kampung Lawata.

Diujung jalan Sakura IV fulana menyeberang ke Lapangan lawata untuk pergi ke rumah konconya yang bernama Fulani, mereka berdua memang nama hampir sama hanya beda huruf belakang dan beda ortu he he he. Selama berjalan menelusuri lapangan bola fulana terus membayangkan makanan yang lezat, seandainya hari ini ada pesta selamatlah aku sampai besok subuh. Tak terasa setelah berjalan sekitar 20 menit sampailah di depan rumah si Fulani. Tanpa berbasa-basi fulana langsung tanya ke Fulani.

“Ada nasi bro”, Fulana bertanya, ” ada bro, hanya nasi saja, gak ada lauk saya kehabisan duit”, jawab fulani. Fulana bilang, “aku punya uang 50 rupiah, tapi buat beli apa 50 rupiah gak cukup”,… sambil bengong memandang keluar, fulani dan fulana tiba2 melihat pedagang es strup. Harga es strup saat itu 50 rupiah satu gelas… Karena pengaruh lapar muncul ide makan nasi pakai es strup…horeeee…bisa makan, akhirnya dengan semangat Fulana dan Fulani cepat membeli es strup siang itu…dengan rasa manisnya Fulana campur es strup dengan nasi. Ternyata rasanya luar biasa seperti makan jajan kata Fulani..Alhamdulillah, selamat lah Fulana hari itu.

Hari selanjutnya sudah mulai keroncongan dari pagi, maklum kemarin makan cuma sekali. Sambil pura2 cuci piring di kost semoga aja ada yang mengajak makan pagi, ahh ternyata tidak satupun yang mengajak karena teman-teman kost belum ada yang masak. Akhirnya dengan semangat 45, Fulana berangkat kuliah sambil berdoa semoga nanti di kampus ada yang traktir apa aja yang penting bisa ngganjal perut. Kesengsaraan yang dirasakan tidak juga menurunkan semagatnya untuk tetap mengikuti kuliah karena buat fulana kuliah juga merupakan peluang untuk mendapatkan makan siang gratis. Setelah mengikuti kuliah beberapa jam akhirnya tibalah masanya pulang ke kost…perut sudah semakin melilit. Sambil mengambil buku untuk melihat list teman-teman selama sebulan terakhir yang dikunjungi untuk makan siang, ah ternyata masih ada yang belum di check list, berarti Fulana belum sempat makan di sana. Dengan penuh semangat sehabis kuliah Fulana cepat-cepat kembali ke kost untuk menyimpan perlengkapan kuliah dan joss ke Rumah Falaka, sambil keluar dari pagar kost belok ke kiri, fulana terus menelusuri jalan kecubung V dengan perasaan H2C (harap-harap cemas) semoga aku tiba tepat waktu. terus berdoa dalam hati sampailah Fulana di Kost Falaka.

Sambil duduk-duduk, betapa kecewanya Fulana ternyata Falaka sedang membereskan piring dan periuk Nasi karena baru saja selesai makan siang bersama dengan teman-temannya…Fulana langsung pucat pasi karena membayangkan bahwa sampai sebentar malam lapar masih berlanjut. Dengan langkah lemas Fulana kembali ke kostnya, sepanjang perjalan ke kost buat fulana adalah perjalanan terberat selama merantau. Setelah sampai di Kost Fulana membuka kamar kostnya sambil berbaring manahan lapar.

Dalam situasi seperti itu Fulana mencoba untuk tetap tenang, sambil berpikir apa lagi yang harus dilakukan. Hanya tinggal pasrah pada Allah. Sambil berlinang air mata di sholat maghribnya Fulana mengadu pada Allah bahwa dia sudah tidak punya perbekalan lagi, dia hanya menggantungkan diri pada Allah semata.

Selesai maghrib Fulana masih mencoba peruntungannya dengan mengunjungi teman-teman yang lain, ternyata malam ini dewi fortuna tidak menghinggapi dirinya. Sambil berjalan kembali ke kost mencoba untuk berpikir dan melihat sekeliling kost, apa yang bisa dimanfaatkan untuk ganjal perut. Saat memandang pantu bongi (tempat menyimpan beras). Entah dari mana rasa optimis malam itu, fulana pelan-pelan mendekati pantu bongi. Dengan penuh kesabaran satu demi satu beras dikumpulkan dalam pantu bongi, termasuk dilantai kost pun di cari oleh fulana. dari hasil mengumpulkan beras satu-satu…Allahu Akbar, akhirnya terkumpul satu panci keci, seola-olah tak percaya dengan apa yang terjadi, Fulana tanpa pikir panjang mencuci beras yang di dapat dan dimasak langsung malam itu. Akhirnya setelah perjuangan keras selamatlah Fulana dari bahaya kelaparan malam itu.

  • Pagi hari Fulana bangun, cuci piring sisa makan tadi malam sambil memikirkan kemana lagi tempat untuk numpang makan. Dalam suasana gunda gulana, Fulana berkata dalam hati, “makan apa aku hari ini”…terus berpikir dan berdoa…Alhamdulillah tiba2 ada agent mobil fajar indah datang membawa kabar gembira bahwa Fulana mendapat kiriman uang dari kampung sebesar 75.000 rupiah. subhanallah Fulana sujud syukur ternyata Allah itu sangat dekat..selamatlah Fulana.

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s